Tampilkan postingan dengan label Arti dan Makna. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Arti dan Makna. Tampilkan semua postingan

Minggu, 13 Maret 2011

Kegagalan Kunci Kesuksesan

Ketika kita diberi tanggung jawab oleh guru ataupun atasan kerja kita, yang pertama kali ada dalam pikiran kita adalah apakah kita mampu untuk melaksanakan tanggung jawab yang diberikan kepada kita. Selain itu kita juga sering kali berpikir apakah hasil akan baik dan sesuai dengan yang dinginkan. Masih banyak pertanyaan-pertanyaan lain yang mewakili ketidakyakinan atau dengan kata lain ketidakpercayaan diri kita dalam melakukan segala hal.

Ketidakyakinan kita itu terasa sangat nyaring terdengar di benak kita, apakah kita akan menyerah dan berhenti untuk mencapai sebuah tujuan? Atau bahkan kita memilih untuk tidak melakukan kegiatan apapun?

Pertanyaan-pertanyaan ini jelas menunjukkan bahwa anda merupakan orang yang mudah menyeraha. Padahal, orang-orang yang sukses merupakan orang yang tidak pantang menyerah dan tidak takut akan kegagalan dan berani mengambil segala resiko. Bahkan, orang-orang yang sukses seringkali memilih suatu hal yang beresiko tinggi, karena mereka yakin bahwa suatu yang beresiko tinggi akan membuahkan hasil yang luar biasa yang tentunya jauh lebih besar dari pada memilih sesuatu yang resikony yang rendah atau bahkan tidak ada resikonya sama sekali.

Mereka tidak takut akan gagal. Tidak ada dalam kamus orang-orang sukses bahwa kegagalan membuat segala sesuatunya menjadi masalah. Bahkan akan membuat masa depan menjadi berantakan. Tidak ada sama sekali hal itu dalam benak orang-orang yang sukses. Bagi mereka, kegagalan merupakan bentuk pengalaman yang berharga. Kegagalan merupakan guru paling berharga untuk meraih sebuah kesuksesan.

Oleh karena itu, marilah dari sekarang kita membiasakan diri untuk berani dalam bertindak dan tidak takut akan membuat kesalahan. Jangan takut pula untuk berpendapat karena dalam kaitannya dengan pendapat seseorang, tidak ada ide atau pemikiran seseorang yang salah. Asalkan masuk akal, semua ide atau pemikiran dapat dibenarkan.

Semangatlah dalam melakukan segala sesuatu. Jangan takut apa yang kita perbuat akan salah. Jangan takut pula bahwa apa yang akan dan telah kita lakukan akan gagal. Apabila benar hasil yang kita capai gagal, maka jadikan kegagalan itu sebagai pelajaran bagi kita sehingga di lain kesempatan kita bisa memperbaiki langkah-langkah yang mungkin tidak sesuai.

Ingat, bahwa kegagalan adalah suatu bentuk kesuksesan yang tertunda. Maka, kita jangan takut jika mendapatkan suatu kegagalan dalam melakukan suatu aktivitas atau kegiatan.

Terus semangat buat kalian semua, semoga apa yang anda impikan dan inginkan bisa tercapai dan mudah untuk mendapatkannya. Amien

Sedikit cerita tentang sebuah usaha untuk berhasil dari saya, semoga bisa bermanfaat buat kalian pembaca sekalian.

Sabtu, 05 Februari 2011

Juara Atau Pecundang???

 Saya rasa hampir setiap individu berharap dapat menjadi seorang pahlawan dan bukan malah menjadi seorang pengecut di masyarakat. Tidak ada yang terlahir dan ingin menjadi seorang yang pengecut, justru sebaliknya ingin menjadi figur pahlawan. Pahlawan tentu tidak selamanya harus sama persis seperti para pejuang dulu dengan membawa bambu runcing dan membela negara ini, melainkan seseorang bisa menjadi pahlawan bagi dirinya dan orang lain.

Ketika seseorang berjuang untuk dirinya sendiri, tidak menyerah akan keadaan yang sedang menimpa dirinya, terus berupaya meraih apa yang menjadi impiannya, dan merdeka atas belenggu negatif yang mengikat dirinya, maka saat itu ia menjadi pahlawan bagi dirinya.

Ketika seseorang berani mengungkap sebuah kebenaran untuk kebaikan banyak orang, berani bertindak untuk sesuatu yang positif bagi sekitarnya, menginspirasi banyak orang lewat karyanya, dan memberi nilai yang berharga untuk pertumbuhan orang lain, maka saat itu ia pun menjadi pahlawan bagi orang lain.

Lalu, bagaimana dengan mereka yang masuk ke dalam golongan pengecut?

Sekali lagi, mereka tidak dilahirkan seperti itu dan otomatis menjadi orang yang pengecut. Akan tetapi mengapa tercipta golongan ini, karena pilihan yang mereka ambil sendiri. Menjadi berani atau tidak, mau merdeka atau tidak, mau berusaha atau tidak, mau menyerah atau tidak, menjadi orang yang berguna atau tidak, mau bangkit atau terus menerus jatuh, semua hal tersebut adalah pilihan yang diambil. Mereka yang pengecut takut untuk mengambil sebuah langkah yang besar untuk perubahan yang lebih baik. Mereka khawatir akan masa depan yang terjadi, dan mengeluhkan kejadian buruk yang terjadi pada dirinya saat ini.

Pola pikir, tingkah laku, determinasi, kepercayaan diri, antusiasme, adalah salah satu faktor yang bisa membedakan seorang pahlawan dengan seorang pengecut (pecundang). Setiap manusia memiliki potensi untuk menjadi seorang pahlawan, begitu pun sebaliknya. Anda tentu masih ingat dengan lagu yang dibawakan Mariah Carey, penggalan liriknya mengatakan demikian: “there’s a hero, if you look inside your heart, and you don’t have to be afraid of what you are…..”

Jadi, jangan sia-siakan potensi dalam diri Anda, lakukan hal besar dan positif untuk diri Anda sendiri dan orang lain. Bangsa ini butuh banyak pejuang dan pahlawan, bukan seorang yang pengecut. Mari kita bangun kembali bangsa ini dengan sikap mental dan perilaku yang positif. Yakinkan diri Anda bahwa Anda bisa.

Lebih Bangga Dengan Nama Sendiri

“Apalah artinya nama,” kata William Shakespeare.

DALAM kehidupan sehari-hari di Indonesia, terutama di kota-kota besar, nama seseorang sering diperlakukan tidak sebagaimana mestinya. Nama dijadikan sebagai anekdot, bahan olok-olok, bahkan akronim. Misalnya, Gatot, merupakan singkatan dari ‘gagal total’, Gunawan sama dengan ‘gundul tapi menawan’, dan Sumoko menjadi ‘selalu omong kosong’.

Fakta lain dalam keseharian, yang entah dimulai sejak kapan—yang jelas merupakan produk asing, tetapi amat tragis, karena sudah menjadi “budaya” di Indonesia—di mana telinga kita akrab dengan sapaan “bos”. Pernah dalam suatu kesempatan Menteri BUMN Sofjan Djalil akan memanggil “bos” kepada direksi BUMN yang dia hafal namanya.

Gara-gara nama sebuah makanan yang dijual di Amerika, yaitu kentang goreng dengan bentuk batang-batang tipis, yang memakai nama french fries, memunculkan perdebatan di Dewan Perwakilan Rakyat Amerika Serikat. Dua anggotanya Bob Ney dan Welter Jones mengusulkan agar nama penganan itu–karena berbau Perancis–diubah namanya menjadi “freedom fries”. Padahal, orang Perancis sendiri tidak tahu menahu mengenai hal ini.

Walaupun nama seseorang kedengarannya asing atau tidak enak di telinga kita, Dale Carnegie pengarang buku How to Win Friends and Influence People, menuturkan bahwa nama sesorang bagi pemiliknya adalah bunyi yang terindah dalam bahasa apa pun; nama adalah identitas pribadi seseorang.

Sebagai identitas pribadi maka nama merupakan aset yang berharga bagi pemiliknya dan selayaknya kita hargai. Bagaimana caranya? Panggil atau sebutlah nama seseorang dengan nama sebenarnya atau nama aslinya. Orang akan senang apabila dipanggil nama aslinya, demikian juga dengan kita.

Mengingat-ngingat nama seseorang adalah sebuah langkah untuk mengenali orangnya dan sebagai salah satu bentuk perhatian terhadap sesamanya. Menghafal nama semua orang adalah mustahil. Setidaknya, kita harus hafal nama atasan, anak buah, anggota keluarga, kerabat, dan anggota komunitas di mana kita menjadi bagian di dalamnya.

Sistem ingatan atau memori kita, semua disimpan di dalam otak besar. Besar kecilnya otak seseorang tidak banyak berpengaruh terhadap memori, tetapi jumlah lipatan-lipatan lapisan luar di otak yang banyak berpengaruh untuk memori seseorang. Bagaimanapun juga, memori seseorang memang terbatas. Namun, memori bisa dilatih. Semakin aktif kita mengingat banyak hal atau belajar, semakin banyak sel otak kita yang akan teraktifkan.

Ada beberapa kiat untuk mengingat nama orang. Yakni dengan mengasosiasikannya dengan hal-hal positif. Misalnya, Anda berkenalan dengan orang yang bernama Yupiter, maka bisa diasosiasikan dengan sebuah planet. Ingat planet, ingat Yupiter.

Selanjutnya, Carnegie menyampaikan bahwa mengingat nama orang bermanfaat untuk meningkatkan popularitas, membantu dalam bisnis atau profesi, membantu memperoleh teman baru, memberi warna dalam pergaulan, mencegah perasaan malu dengan menaruh perhatian yang tulus terhadap orang lain, serta mempraktikkan Hukum Emas “memperlakukan orang sebagaimana Anda ingin diperlakukan”.

Bagi orang tua di Malaysia, pemberian nama kepada anak-anak diatur oleh negara melalui Departement Pendaftaran Nasional Malaysia. Peraturan ini bertujuan agar tidak digunakan nama-nama yang mempunyai arti tidak pantas. Zani, dalam bahasa Melayu artinya laki-laki pezinah. Sumseng, dalam bahasa China berarti penjahat. Penduduk Malaysia terdiri dari etnis Melayu 64 persen, India 15 persen, dan China 12 persen.

Untuk memberi nama putra-putri dengan nama-nama yang baik Anda tidak perlu pusing karena sekarang sudah tersedia buku-buku yang memuat nama-nama bayi disertai dengan artinya.

Salah satu agama besar menganjurkan memberi nama yang baik kepada anak-anak kita, agar kelak mereka tidak malu menyandang namanya. Salah satu nama yang dianjurkan adalah Hammam, yang bermakna “mempunyai kemauan yang keras”.

Pada dasarnya, manusia membutuhkan perhatian. Untuk itu perlu ditumbuh kembangkan minat mengingat nama orang dan memanggil atau menyapa seseorang dengan nama aslinya, sebagai wujud dari perhatian dan penghargaan. Hal ini akan menimbulkan rasa simpati dan bahagia secara timbal balik.[mar]

* Marsudijono adalah karyawan di Pertamina dan alumnus SPP Angkatan 4. Saat ini, ia sedang menyusun sebuah buku. Ia dapat dihubungi di: muda_abadi@yahoo.com